Kegiatan Pelatihan PSW UGM dalam rangka Short Course IPDN ‘Pelatihan Metodologi Penelitian Berperspektif Gender’ tanggal 10 – 12 Mei 2012 di UC UGM More »

Pelatihan PSW UGM dalam rangka Short Course IPDN ‘Pelatihan Metodologi Penelitian Berperspektif Gender’ pada tanggal 10 – 12 Mei 2012 di University Club UGM Yogyakarta More »

 

PENYUSUNAN ROAD MAP KEBIJAKAN “HeForShe” Indonesia

FOCUS GROUP DISCUSSION PENYUSUSAN ROADMAP KEBIJAKAN “HEFORSHE” INDONESIA

 

 

Sesuai dengan beberapa misi PSW UGM poin yaitu Mendorong inovasi dan pemberdayaan masyarakat yang berperspektif gender serta Meningkatkan jejaring kerjasama dengan steakholder baik dalam negeri dan luar negeri, maka pada tanggal 28 November 2016 PSW UGM bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia telah mengadakan Focus Group Discussion dalam rangka penyusunan Road Map  Kebijakan “HeForShe” Indonesia

 

FGD "HeForShe" Oleh PSW UGM Bekerjasama dengan Kementerian PP-PA RI

FGD "HeForShe" Oleh PSW UGM Bekerjasama dengan Kementerian PP-PA RI

HeforShe pertama kali diluncurkan pada bulan September 2014 oleh Presiden Majelis Umum, Sekretaris Jenderal PBB dan UN Women Global Goodwill Ambassador pada Sidang Majelis Umum PBB ke-69. Hingga saat ini terdapat 50 kepala negara/pemerintahan yang secara tertulis telah menyampaikan dukungan terhadap kampanye HeforShe. Gerakan HeForShe  tidak ditujukan untuk  ‘menyelamatkan’ wanita, justru gerakan ini diadakan untuk kesetaraan pria dan wanita; pria mendukung wanita dan wanita mendukung pria.

Indonesia menyatakan mendukung gerakan HeforShe melalui surat Presiden RI yang telah disampaikan kepada PBB tertanggal 2 Februari 2015 yang menyampaikan dukungannya terhadap gerakan ini. Presiden RI kemudian menindaklanjuti dukungan ini dengan menjadi salah satu IMPACT Champion Leader, dimana Champion World Leader tersebut merupakan bagian dari program IMPACT 10x10x10, untuk membangun kepemimpinan bersama terhadap kampanye HeforShe diantara 10 Kepala Negara/Pemerintah, 10 CEO, dan 10 Rektor Universitas.

Sebagai program nasional, gerakan HeforShe perlu mempunyai arah yang tepat dan berfokus. Oleh karena itu perlu diperjelas arah kebijakannya kedepan tentang kebijakan, program, kegiatan dan kelembagaan pendukungnya. Untuk lebih memperjelas arah kegiatan gerakan HeforShe, maka diperlukan road map. Secara harfiah, road map dapat diartikan sebagai peta penentu atau penunjuk arah. Dalam konteks upaya pencapaian hasil gerakan HeforShe, road map adalah sebuah dokumen rencana kerja rinci yang  mengintegrasikan seluruh rencana dan pelaksanaan program serta kegiatan HeforShe dalam rentang waktu tertentu. (Sumber: Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, No. 9 Tahun 2011). Road Map Gerakan HeforShe merupakan landasan pijakan pemerintah pusat maupun daerah dan stakeholder dalam menjalankan program kedepan secara nasional.


LANGKAH STRATEGIS
Isu yang dikembangkan dalam road map adalah peran dan dukungan laki-laki dan anak laki-laki dalam rangka membangun kesetaraan melalui identifikasi Akses, Kontrol, Partisipasi dan Manfaat yang berfokus pada 3 (tiga) sasaran utama yaitu:

a)    Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan,.

b)    Penurunan angka kematian ibu melahirkan (AKI)

c)    Penghapusan segala bentuk kekerasan perempuan dan anak perempuan

Rentang waktu pencapaian road map adalah jangka pendek yaitu tahunan sampai dengan tahun 2019, jangka menengah dan jangka panjang sampai dengan tahun 2030.
Kategorisasi target perubahan meliputi tiga domain besar meliputi:

  1. Norma sebagai landasan pola berfikir (mindset) sensitive gender,
  2. Kecakapan bertindak dan berperilaku sensitif gender
  3. Membangun sensitifitas atau kepedulian laki-laki terhadap kesetaraan gender.

Untuk identifikasi potensi dan tantangan dalam pelaksanaannya akan digunakan analisis SWOT. Sedangkan informasi yang harus ada pada road map tersebut adalah: tahapan atau aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan berupa program dan kegiatan, target, capaian/hasil, pelaksana, penanggungjawab, dukungan yang dibutuhkan, sumber anggaran.

DASAR HUKUM
Dasar hokum disusunnya road map gerakan HeforShe adalah:

  1. Undang-undang Dasar 1945 Hasil Amandemen
  2. Undang-Undang nomor 39 Tahun 1999, tentang : Hak Asasi Manusia
  3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
  4. Undang-undang nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
  5. Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pembagian Kewenangan antara Pusat dan Daerah
  6. Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional

TUJUAN
Tujuan Penyusunan Road Map pelaksanaan gerakan heforshe ini adalah:

  1. Memberikan arah pelaksanaan dan pengembangan program HeforShe untuk mendapatkan hasil maupun dampak seperti yang diharapkan sehingga dapat mempercepat strategi PUG secara nasional.
  2. Hasil Road Map ini ditujukan untuk dapat dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan baik pemerintah pusat dan daerah serta stakeholder yang concern terhadap PUG.
  3. Mendoronggerakan HeforShe lebih fokus dan terintegrasi untuk mendapat sambutan dari masyarakat secara massif dan luas

SASARAN
Sasaran dari disusunnya Road Map gerakan HeforShe ini adalah:
1.    Pemerintah pusat yang terdiri dari kementeriandan lembaga
2.    Pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota
3.    Pemerintah tingkat Desa
4.    Stakeholder terkait dan masyarakat umum

Dalam Forum ini PSW UGM mengundang beberapa Instansi Pemerintah di Povinsi DIY , Instansi pemerintah di kabupaten dan kota di DIY, Lembaga Swadaya Masyarakat, serta akademisi

Kegiatan di malai dengan sambutan dari Kepala PSW UGM Dr. Tri Winarni Soenarto Putri, SU

Kepala PSW Membuka acara FGD Penyusunan Road Map kebijakan "HeForShe"

Kepala PSW Membuka acara FGD Penyusunan Road Map kebijakan "HeForShe"

Dilanjutkan pemaparan dari narasumber yang berkompeten dalam bidang
Narasumber Muhammad Saeroni, S.Ag.,M.H dari RIFKA ANISA, dimana rifka anisa sebagai LSM yang berpengalaman dalam bidang pengembangan sumberdaya untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Rifka anisa  bercita-cita mewujudkan tatanan sosial yang berkeadilan sosial-gender (social gender justice) berdasarkan prinsip keadilan, kesetaraan, anti kekerasan, kemandirian, integritas dan penghargaan terhadap kearifan lokal.


MENURUT NARASUMBER Prinsip Program Pelibatan Laki-laki

  • Pelibatan laki-laki adalah suatu pendekatan program yang ditujukan bagi laki-laki untuk mewujudkan keadilan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan
  • Program/gerakan pelibatan laki-laki adalah bagian integral dari gerakan sosial laki-laki dan perempuan untuk mengahpuskan kekerasan terhadap perempuan serta untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender
  • Tidak untuk menggantikan program dan pendekatan pemberdayaan perempuan dan gerakan perempuan untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan
  • Perlunya ada mekanisme akuntabilitas terhadap kelompok perempuan
  • Menyadari risiko peneguhan kembali peran tradisional laki-laki yang dapat menimbulkan kekerasan terhadap perempuan.

Strategi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak untuk mencapai transformasi sosial ada beberapa tahapan  dimulai dari transormasi personal, transformasi keluarga, transformasi komunitas, transformasi institusi dan struktur dan transformasi sosial

Narasumber menegaskan bahwa:

  • Program transformasi laki-laki di komunitas lebih efektif dilakukan secara paralel dengan program permberdayaan perempuan atau di komunitas dimana kelompok perempuan telah mendapatkan program permberdayaan terlebih dahulu.
  • Pada awal program lebih baik hindari/tidak langsung bicara mengenai kekerasan terhadap perempuan untuk meminimalisir resistensi. Membicarakan tentang laki-laki, makulinitas dan keluarga lebih baik untuk memulai diskusi.
  • Menggunakan metode refleksi lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman dan keberpihakan pada isu gender dan kekerasan terhadap perempuan.
  • Fasilitator laki-laki seharusnya menjadi role model bagi komunitasnya. Laki-laki akan lebih mudah berubah ketika mereka menyaksikan contoh atau memiliki kawan yang serupa.

 

Setelah pemaparan dari narasumber acara dilanjutkan dengan diskusi, diskusi di bagi menjadi tika kelompok sesuai dengan sasaran utama,
elompok pertama dengan topik utama Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dengan fasilitator Surani Hasanati, S.Si., M.Si

Kelompok pertama dengan topik utama diskusi Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dengan fasilitator Surani Hasanati, S.Si., M.Si

Kelompok pertama dengan topik utama diskusi Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dengan fasilitator Surani Hasanati, S.Si., M.Si

Kelompok ke dua dengan tema Penurunan angka kematian ibu melahirkan (AKI) fasilitator Dr. Wiwik Puji Mulyani, M.Si

Kelompok kedua dengan sasaran utama diskusi   Penurunan angka kematian ibu melahirkan (AKI) fasilitator Dr. Wiwik Puji Mulyani, M.Si

Kelompok kedua dengan sasaran utama diskusi Penurunan angka kematian ibu melahirkan (AKI) fasilitator Dr. Wiwik Puji Mulyani, M.Si

sedangkan kelompok ketiga dengan sasaran utama Penghapusan segala bentuk kekerasan perempuan dan anak perempuan dengan fasilitator Drs. Soeprapto, SU

kelompok ke 3 dengan sasaran diskusi Penghapusan segala bentuk kekerasan perempuan dan anak perempuan

kelompok ke 3 dengan sasaran diskusi Penghapusan segala bentuk kekerasan perempuan dan anak perempuan

PELATIHAN METODE PENELITIAN RESPONSIF GENDER DAN GENDER BASE VIOLENCE

 

PELATIHAN METODE PENELITIAN RESPONSIF GENDER DAN GENDER BASE VIOLENCE

PSW UGM mengadakan pelatihan Motode Penelitian Responsif Gender & Gender Base Violence pada tanggal 7 -11 November 2016 bertempat di Ruang Kenanga 2 Hotel Cakra Kusuma Yogyakarta, Pelatihan tersebut kerjasama antara PSW UGM dengan SEM Republik Timor Leste.

Penelitian berperspektif gender tidaklah sama dengan penelitian tentang perempuan. Penelitian tentang perempuan menjadikan perempuan sebagai obyek studinya. Penelitian dapat berupa diskriptif obyektif dalam arti melihat perempuan tidak dari dalam atau dari sisi perempuannya sendiri, melainkan dari sudut pandang luar. Penelitian tidak jarang memberikan penjelasan atau interpretasi yang androsentrisme yaitu adanya sebuah pemahaman yang menjadikan laki-laki dianggap sebagai pusat dari dunia, sehingga fokus ideologis hanya pada laki-laki sehingga isu-isu yang mempengaruhinya mungkin akan merugikan perempuan. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan, penelitian tentang perempuan tidak bertitik tolak dari pengalaman, masalah, atau kepentingan perempuan, melainkan bertitik tolak dari kepentingan pihak-pihak lain.
Saat sekarang ini nampaknya perhatian dari berbagai pihak tentang perlunya dilakukan penelitian berperspektif gender semakin tinggi, sehingga perlu dilakukan pelatihan tentang metode penelitian sensitif gender dan gender base violence

Peserta Pelatihan
1. João Lino Guterres
2. Pedro Ximenes
3. Fátima Lourdes Alves
4. Noemia Magno
5. Napoliao de Andrade Soares
6. Angelina Ave Maria Pires
7. Brigida da Costa

Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
- Peserta mampu memahami isu – isu gender dalam pembangunan, sehingga dapat menganalisis dalam rangka melakukan penelitian yang     hasilnya bisa dijadikan pijakan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang reponsif gender.
- Peserta mampu mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis riset sensitive gender
- Peserta mampu melakukan penelitian berbasis gender

Manfaat pelatihan ini adalah:
- Untuk pengembangan metode penelitian berbasis gender dalam rangka mendorong percepatan pelaksanaan PUG
- Mendorong isu gender di berbagai bidang sebagai bagian pengembangan ilmu pengetahuan

Materi
1. Konsepsi, Teori, dan Isu Gender secara Global dan Nasional
2. Pengarusutamaan Gender / Gender Mainstreaming dalam Pembangunan
3. Analisis Gender
4. Metode Penelitian Gender
5. Teknik Pengumpulan Data
6. Isu Gender dan Analisis Gender dalam Penyusunan Kebijakan dan Peraturan Perundangan-undangan
7. Undang-undang Perkawinan dan Hak-Hak yang Melekat
8. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
9. Studi Kasus
10. Pengamatan terkait Isu-Isu Gender (Lapangan)

Peserta pelatihan berfoto bersama Prof. Dr. Partini, SU

Peserta pelatihan berfoto bersama Prof. Dr. Partini, SU

Pemateri
1. Prof.Dr. Partini, SU
2. Dr. RA Arida Oetami, M.Kes (Kepala BPPM Prov DIY)
3. Dr. Tri Winarni SP, SU (Kepala PSW UGM)
4. Dr. Wiwik Puji Mulyani (Sekretsaris PSW UGM)
5. Surani Hasanati, S.Si., M.Sc
6. Prof. Ari Hernawan, SH., M.Hum
7. Sri Natin,S.H., S.U
8. Drs. Soeprapto, SU

Pelatihan dibuka oleh Dr. Wiwik Puji Mulyani, S.Si., M.si sebagai sekretaris PSW UGM, beliau mengucapkan selamat datang kepada pesertaa, dan berterimakasih kepada SEM Republik Timor leste yang selama ini bekerja sama dengan UGM dan mempercayakan pelatihan tenteng metode penelitian responsif gender ini kepada PSW UGM, dan semoga apa yang di sampaikan dapat memberi manfaat kepada para peserta dan masyarakat Republik Timor Leste pada umumnya

Dr. Wiwik Pui mUlyani (Sekretaris PSW UGM) membuka Pelatihan

Dr. Wiwik Pui mUlyani (Sekretaris PSW UGM) membuka Pelatihan

sesi I dengan pemateri Prof.Dr. Patini dengan menganggakat tema “ISSUE & TEORI GENDER GLOBAL DAN NASIONAL”

beliau Memaparkan berbagai hal isu gender global dan nasional, isu gender dari masa ke masa yang diawali dgn Gerakan Feminis Gelombang I yg diakibatkan krn revolusi industri, abad 17 sampai 19, mulai dr Feminis Liberal, Marxis, Sosialis, dan Radikal Disusul dgn Gelombang II, setelah Revolusi Hijau, tahun 1970-an saat era modernisasi, sedangkan Gelombang III setelah Rev Teknologi Informasi & Komunikasi tahun 1990-an yg kental dgn nuansa Post Modernis, Pos Kolonialis dan Post strukturalis. Pergeseran paradigma isu gender setiap periode punya kelemahan selnjutnya diperbaiki terus menerus sampai tujuan perjuangan tercapai. Diskursus perjuangan terkendala pd pemahaman kultur & struktur ms2 wilayah, termasuk pendanaan sbg bukti kepeduliaan negara (Pemda). Perubahan paradigma utk menjembatani perubahan mind set, laki-laki & perempuan, baik masyarakat sipil, birokrat, legislatif dan yudikatif

Prof. Dr. Partini, SU memberikan materi Konsepsi, Teori, dan Isu Gender secara Global dan Nasional

Prof. Dr. Partini, SU memberikan materi Konsepsi, Teori, dan Isu Gender secara Global dan Nasional

 

dr. RA Arida Oetami, M.Kes pada saat memaparkan materi

dr. RA Arida Oetami, M.Kes pada saat memaparkan materi

Dr Tri Winarni Soenarto Putri, SU (Kepala PSW UGM)  memberikan materi dalam Pelatihan Metode Penelitian Responsif Gender

Dr Tri Winarni Soenarto Putri, SU (Kepala PSW UGM) memberikan materi dalam Pelatihan Metode Penelitian Responsif Gender

Dr. Wiwik Puji Mulyani (Sekretaris PSW UGM) memberikan pemaparan tentang Metode Penelitian Gender

Dr. Wiwik Puji Mulyani (Sekretaris PSW UGM) memberikan pemaparan tentang Metode Penelitian Gender

 

Drs. Soeprapto, SU memberikan pemaparan

Drs. Soeprapto, SU memberikan pemaparan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

 

Prof. Dr. Ari Hernawan, S.H., M.Hum Memberikan pemaparan dalam pelatihan

Prof. Dr. Ari Hernawan, S.H., M.Hum Memberikan pemaparan tentang Isu Gender dan Analisis Gender dalam Penyusunan Kebijakan dan Peraturan Perundangan-undangan dalam pelatihan

PELATIHAN PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN RESPONSIG GENDER (PPRG)

 

PELATIHAN PPRG Kerjasama antara PSW UGM dan SEM Republik Timor Leste

PUSAT STUDI WANITA UNIVERSITAS GADJAH MADA selama beberapa tahun telah mengadakan kerjasama dengan SEKRETARIA ESTADO PARA O APOIO E PROMOSAUN SOSIU EKONOMIKA DA MULHER (SEM) Republik Timor Leste, salah satu bentuk kerjasama dalam bidang pendidikan adalah dengan mengadakan pelatihan, pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender dilaksanakan ada tanggal 24 – 28 Oktober 2016 di University Club UGM. Untuk melaksanakan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) diperlukan pemahaman baik pada tingkat konsep mapun implementatif oleh pemegang kebijakan maupun pelaksana program atau kegiatan. Oleh karena itu diperlukan pelatihan untuk memberikan pemahaman secara utuh kepada mereka bagaimana PPRG dijalankan .

Pelatihan penyusunan Perencanaan dan penganggaran responsif Gneder (PPRG) 2016

Pelatihan penyusunan Perencanaan dan penganggaran responsif Gneder (PPRG) 2016

Dengan peserta antara lain :
1. Maria Eeperança Filomana Martins
2. Nelson dos Santos Madeira
3. Natalino Corte Real Cardoso
4. Nivia Ana dos Santos
5. Olga da Costa Monteiro
6. Cicilia Vieira Cabral
7. Gizela Maria do Rosario das Neves

Tujuan dari pelatihan adalah
- Memberi pemahaman kepada peserta tentang pentingnya Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam program pembangunan
- Memberi pemahaman tentang model perencanaan berbasis kinerja
- Memberi pemahaman konsep dan tatalaksana PPRG
- Melatih peserta untuk menyusun PPRG dalam program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan melalui Gender Analisys Pathway (GAP), Gender Budget Statemen (GBS) dan Term of Refern (TOR)
- Melatih peserta untuk mampu melaksanakan monev pelaksanaan PPRG

Dari pelatihan ini diharapkan:
- Peserta akan mampu memahami secara keseluruhan pelaksanaan PPRG mulai dari konsep, pelaksanaan dan monitoring evaluasi, sehingga segera bisa melaksanaannya di lembaga masing-masing

Materi yang diberikan antara lain:
1. Konsep, Teori, dan Isu Gender secara Global dan Nasional
2. Pengarusutamaan Gender/Gender mainstreaming dalam Pembangunan
3. Analisis Gender
4. Reformasi Sistem Perencanaan dan Penganggaran dalam Program Pembangunan
5. Penyusunan Program dan Kegiatan Berbasis Kinerja
6. Anggaran yang Responsif Gender (ARG)
7. Penyusunan Perencananaan dan Penganggaran Responsif Gender
8. Penerapan GAP dan PPRG
9. Pembuatan GBS dan TOR dalam PPRG
10. Praktek Penyusunan PPRG
11. Sistem Monitoring, Evaluasi dalam Pelaksanaan PPRG dalam Pembangunan.

Dengan Pemateri :

Prof. Dr. Suratman, M.Sc
Prof. Dr. Mohtar Mas’oed
Dr. Tri Winarni Soenarto Putri, SU
Nur Azizah, SIP., M.Sc
Ir. Sri Nurkyatsiwi, MMA
Ir. Harsoyo, M.Ext.Ed
Anggoro Budi Prasetyo, SS.
Sri Natin, SH., SU

SEMINAR HASIL PENELITIAN “MODEL KETAHANAN PANGAN BERPERSPEKTIF GENDER”

PENELITIAN PUPT “Model Ketahanan Panangan Berperspektif Gender”

Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan KEMENRISTEKDIKTI RI telah melakukan Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) tentang Model Ketahanan Pangan Dalam Perspektif Gender, penelitian ini dilakukan peneliti PSW UGM mulai April-September 2016. . Dengan ketua peneliti : Drs. Purwanto, SU., M.Phil sedangkan anggota tim adalah Dr. Muhamad Supraja,M.Si; Drs. Soeprapto, SU; Ir. Harsoyo, M.Ext.Ed

Latar belakang penelitian tersebut antara lain: Sejak beberapa tahun yang lalu, program pangan se-dunia (World Food Programme WFP) telah melakukan kampanye besar-besaran guna mengantisipasi secara sistematis kerawanan pangan global (global food insecurity) sekaligus untuk mensiasati kerawanan pangan yang lebih akut yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020. Gerakan global dan nasional tersebut secara signifikan tidak akan tercapai apabila tidak dimulai dari gerakan umum yang dilakukan oleh masyarakat. Indonesia sebagai negara agraris (sumber pangan) sudah selayaknya mulai memobilisasi semua komponen bangsa untuk mengatasi kerawanan pangan tersebut melalui sebuah kebijakan yang tepat dan adatif di tingkat masyarakat.

efektivitas peran perempuan dalam penguatan ketahanan pangan telah dibuktikan melalui “Penelitian tentang Model Ketahanan Pangan Dalam Perspektif Gender” yang dilakukan tim peneliti PSW UGM mulai April-September 2016.

Penelitian itu mengambil sampel di Desa Kedungmalang, Kabupaten Jepara sebagai representasi daerah pantai; Desa Tepus, Kabupaten Gunungkidul sebagai representasi daerah kering pegunungan; Desa Plumbon, Kabupaten Kulon Progo sebagi representasi daerah sawah.”Di tiga desa tersebut terbukti keterlibatan perempuan cukup efektif membantu peningkatan ketahanan pangan,” katanya.Peneliti.

 

Peseerta Seminar dari berbagai SKPD, perangkat desa dan kelompok tani

Data yang diperoleh dilapangan  mengatakan

Di Desa Tepus, Gunung Kidul sebagai daerah kering, wilayah itu paling rentan tingkat ketahanan pangannya. Namun demikian, tingkat kerentanan itu mampu dikikis dengan kreativitas yang tinggi dalam melakukan diversifikasi pangan dengan melibatkan peran perempuan. “Daerah yang paling rentan tingkat ketahanan pangannya ternyata berdampak makin memiliki kreativitas yang tinggi dalam melakukan diversifikasi pangan yang tersedia,” kata dia.

 

Sementara di kawasan pesisir di Desa Kedungmalang, Kabupaten Jepara, istri atau ibu rumah tangga memiliki peran utama dalam penyediaan bahan makanan, sebab sebagian besar suami di daerah itu berprofesi sebagai nelayan sehingga banyak menghabiskan waktunya untuk melaut.

 

Tingginya pangsa pengeluaran untuk bahan makanan (>60%) yang terdapat di desa kering menunjukkan bahwa rata-rata ketahanan pangan rumah tangga di desa tersebut masih masuk dalam kategori rentan-rawan pangan. Sebaliknya, pangsa pengeluaran pangan rumah tangga di desa sawah dan pantai relatif rendah, dalam arti kurang dari 60%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata tingkat ketahanan pangan rumah tangga di desa tersebut masuk dalam kategori kurang-tahan pangan.

Tingkat Ketahanan Pangan

Berdasarkan Persentase Pengeluaran Pangan Terhadap Pengeluaran Total

No

Variabel

Pengeluaran Pangan terhadap Pengeluaran Total

Tingkat ketahanan pangan

1

Desa Kering

69%

Rentan-Rawan pangan

2

Desa Pantai

59%

Kurang-Tahan pangan

3

Desa Sawah

39%

Kurang-Tahan pangan

Sumber : Data primer (2016)

Peran Perempuan dalam Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Kaum perempuan memiliki peran yang cukup besar dalam ketahanan pangan rumah tangga. Peran tersebut sebenarnya tidak bisa terlepas dari peran ganda yang mereka miliki sejak awal, yakni peran domestik dan publik. Peran domestik (reproduktif) kaum perempuan dapat diartikan sebagai segala kegiatan kaum perempuan yang berkaitan dengan kegiatan mereka di dalam rumah, mulai dari pengadaan/ persiapan pangan, pengolahan dan penyiapan pangan, serta menjaga kualitas pangan. Adapun peran publik (produktif) kaum perempuan dalam ketahanan pangan rumah tangga dapat diartikan sebagai segala kegiatan kaum perempuan yang dapat menghasilkan produksi barang atau jasa, baik untuk dikonsumsi atau dijual, atau berupa usaha pemasaran maupun perdagangan yang dilakukan oleh perempuan untuk menambah pendapatan rumah tangga.

 

Peran Perempuan dalam Pendapatan Rumah Tangga

Di semua tipologi desa, perempuan mempunyai peran yang cukup signifikan dalam pendapatan rumah tangga. Besarnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi terjadi karena beberapa sebab, antara lain pertama, adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Kedua, adanya kemauan perempuan untuk mandiri dalam bidang ekonomi. Ketiga, makin luasnya kesempatan kerja di beberapa sektor yang adaptif serta bisa menyerap pekerja perempuan.

 

Peran Perempuan dalam Produksi Pangan

Dari segala aspek yang melingkupinya, peran kaum perermpuan di sektor produksi pangan tidak terbantahkan. Mulai dari sub sektor pertanian sawah, peternakan, perkebunan, perikanan darat, perikanan laut, perdagangan, maupun pemasaran, peran kaum perempuan cukup terlihat dan berpengaruh secara langsung atas ketahanan pangan rumah tangga.

 

Peran Perempuan dalam Persiapan dan Pengolahan Pangan

Sebagaimana terjadi pada aspek pengadaan atau penyiapan pangan, dominasi peran perempuan juga terjadi pada aspek persiapan, pengolahan dan distribusi pangan. Aktivitas rumah tangga seperti membersihkan bahan pangan, memasak bahan pangan, memilihkan makanan bagi setiap anggota keluarga, menghidangkan makanan, menyimpan makanan, serta membersihkan meja makan menjadi tanggung jawab seorang ibu rumah tangga juga.

 

Peran Perempuan dalam Kualitas Pangan

Peran perempuan dalam menjaga kualitas pangan rumah tangga juga cukup dominan. Kuantitas dan kualitas pangan yang disajikan oleh ibu merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan kerena akan berdampak pada kesehatan keluarga. Besar kecilnya anggaran dalam merencanakan, mengolah, mempersiapkan dan menghidangkan bahan pangan juga menjadi dasar bagi ibu rumah tangga dalam upaya memperbaiki kualitas pangan yang dikonsumsi oleh keluarganya.

 

Model Ketahanan Pangan yang Berperspektif Gender

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di tiga desa sasaran yang memiliki tipologi yang berbeda, yakni desa sawah, kering, dan pantai, dapat disimpulkan bahwa perempuan memiliki peran yang cukup besar dalam ketahanan pangan rumah tangga. Peran tersebut sebenarnya tidak bisa terlepas dari peran ganda yang mereka miliki sejak awal, yakni peran domestik dan publik. Kedua peran tersebut, baik peran domestik (reproduktif) maupun peran publik (produktif) secara otomatis akan berhubungan langsung dengan kondisi ketersediaan pangan lokal di desa masing-masing.

 

Keterlibatan perempuan dalam pemenuhan ketersediaan, keterjangkauan, kemerataan, dan keamanan pangan di daerah efektif mencegah kerawanan pangan, kata peneliti. “Indonesia sebagai negara agraris sudah selayaknya mulai memobilisasi semua komponen bangsa termasuk menekankan keterlibatan perempuan untuk mengatasi kerawanan pangan, Sehingga, hasil penelitian itu menunjukkan pentingnya rekayasa kelembagaan ketahanan pangan dari dimensi ketersediaan, keterjangkauan, kemerataan, dan keamanan pangan pada tingkat masyarakat (keluarga) dengan memberikan porsi peran perempuan. “Kami berharap ini dapat menjadi model bagi daerah lain untuk memberikan porsi partisipasi perempuan dalam pengelolaan pangan,” kata para peneliti

 

SEMINAR NASIONAL “KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI INDONESIA”

SEMIAR NASIONAL “KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI INDONESIA”

pada hari Selasa 24 Mei 2016 yang bertempat di University Club (UC) Universitas Gadjah Mada

acara dibuka dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dilanjutkan do’a kemudian Sambutan dari ketua panitia Drs. Soeprapto, SU.

Rangkaian Pembukaan Seminar Nasional Kepemimpinan Perempuan di Indonesia 2016

Rangkaian Pembukaan Seminar Nasional Kepemimpinan Perempuan di Indonesia 2016

Sambutan berikutnya dari  Wakil Rektor Bidang P2M dianjutkan

 PROF.Dr. SURATMAN, M.Sc

Selama ini perempuan selalu dianggap sebagai objek dari pembangunan, padahal sudah sangat lama ditemukan bukti bahwa perempuan sudah berhasil menjadi subjek dari pembangunan, sehingga istilah “Pemberdayaan Perempuan” sudah tidak coock lagi untuk digunakan, karena yang lebih cocok adalah “Peningkatan Keberdayaan Perempuan”.

Dewasa ini, perjuangan panjang kaum perempuan masih menghadapi banyak kendala atau kontroversi. Kendala atau kontroversi tersebut dapat berasal dari faktor eksternal maupun dari faktor internal. Begitu pula Permasalahan anak sudah berada di warna kuning menjelang merah, ada LGBT, narkoba, macam-macam. Anak dijadikan aset bangsa sehingga harus ada kongres anak dan juga ada riset anak,

“Kerja adalah konsep bangsa, pada akhirnya akan bermuara ke Indonesia hingga ke dunia pada konsep global”, Tegas Prof. Suratman.

sebagai tanda dimalainya acara seminar tersebut maka dilakukan pemukulan Gong.

pemukulan gong oleh Prof. Suratman  sebagai tanda dimulaintya acara Seminar Nasional

pemukulan gong oleh Prof. Suratman sebagai tanda dimulaintya acara Seminar Nasional

 KEYNOTE SPEECH

Kualitas hidup perempuan di satu dasawarsa terakhir sudah membaik, perempuan Indonesia adalah sumber daya potensial yang apabila diberi kesempatan akan maju dan meningkatkan kualitasnya secara mandiri dan menjadi penggerak dalam dimensi kehidupan dan pembangunan bangsa. Namun Masih ada fakta kurang menyenangkan bagi perempuan seperti masih tinggi tingkat kekerasan pada perempuan, kesenjangan pembangunan antara perempuan dan laki-laki, terbatasnya akses sebagian besar perempuan thdp fasilitas kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, kurangnya peran perempuan dalam lembaga publik yang lebih luas (seperti partisipasi di bidang politik dan jabatan strategis di bidang pemerintah) Dan Ketika perempuan menjadi pemimpin apakah mereka akan memiliki keberpihakan kepada perempuan? Inilah tantangan yang harus dijawab oleh perempuan di berbagai bidang masing-masing. Secara kultural, perempuan masih dibelenggu oleh budaya patriarki, perempuan di sektor domestik, laki-laki disektor publik. Akses dan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan masih rendah.

Bpk Muhammad Ihsan, S.Ag.,MA dari Kementerian PPPA RI sebagai Keynote Speech

Bpk Muhammad Ihsan, S.Ag.,MA dari Kementerian PPPA RI sebagai Keynote Speech

Akibatnya dalam politik laki2 masih mendominasi, sehingga dalam menyusun perundangan belum banyak berpihak pada perempuan. Tantangan harus dijawab dengan dialog bersama kelompok laki2 dalam pembangunan permberdayaan perempuan dan anak. Sehingga persoalan perempuan merupakan persoalan bersama perempuan maupun laki2.

Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc

KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

Tantangan global ke depan adalah begitu cepatnya perubahan zaman yang sangat dinamis, sehingga dibutuhkan peran wanita untuk menghadapi permasalahan global, seperti magine comunity, sehingga diperlukan kepemimpinan yang tangguh. sedangkan Pengertian kepemimpinan yakni suatu proses untuk mencapai tujuan bersama.

            Banyak perempuan yang telah menduduki jabatan sebagai pemimpin, akan tetapi Untuk tampil sebagai pemimpin ada hambatan yang seolah-olah tidak terlihat tetapi dalam kenyataannya merintangi akses dalam menuju kepemimpinan puncak antara lain Isu gender dan ketidakadilan (di Indonesia gender belum memiliki padanan kata, sehingga tetap digunakan) sifatnya melekat dan dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Manisfestasi ketidakadilan gender à kemiskinan ekonomi, misal: dg alih fungsi lahan bisa menggunakan tenaga perempuan, di daerah upah untuk perempuan lebih rendah (penggajian yang tidak equal), subordinasi, pembentukan stereotipe, kekerasan, beban kerja lebih karena dianggap itu sudah menjadi kodratnya, sosialisasi ideologi peran gender

Sebagai penutup Prof. Eni menyampaikan

  • Fakta menunjukkan bahwa semakin tinggi jabatan kepemimpinan, semakin rendah proporsi perempuan.
  • Meskipun belum proporsional, perempuan berpeluang menduduki berbagai posisi pimpinan baik struktural maupun fungsional.
  • Yang penting sebetulnya adalah apakah pemimpin tersebut sudah berperspektif gender.

“Maka dari itu Dalam menghadapi tantangan global diperlukan kepemimpinan perempuan yang visioner, berfikir inovatif, mempunyai kemampuan manajemen waktu,membina kerja tim, mengenali dirinya, percaya diri, berperspektif gender”, tegas Pror Eni.

 

dr. RA. Arida Oetami, M.Kes

kepemimpinan perempuan dalam perspektif kesehatan masyarakat

Dr. Arina menyampaikan bahwa Banyak sekali tantangan di era sekarang, misal kasus kematian ibu. Di tahun 2015 akhir (29%); kasus gizi buruk; masalah penyakit menular dan tdk menular (sekarang cukup banyak); pembiayaan kesehatan; kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (yang paling sulit menghentikan/mengatur tidak merokok di dalam rumah); akses dan mutu pelayanan (saat ini sudah cukup bagus dengan RS dan PUSKESMAS, namun akses masih menjadi perempuanoblem, misal untuk penyandang difabel)

Dalam bidang kesehatan, tenaga kesehatan lebih banyak perempuan di banding laki-laki, di sini perempuan memerankan untuk membuat rekaya sosial.

  • Diperlukan satu kepemimpinan yang benar-benar tahu kondisi masyarakat
  • Yang seperti apa pemimpin perempuan? Maskulin/tegas/ambisius?
  • Kecenderungan gaya kepemimpinan perempuan bagi kesehatan sangat menguntungkan karena melalui hubungan dan keakraban, perempuan cenderung demokratif dan partisipatif, transformasional (percaya, bangga thdp atasan) à kadang perempuan cenderung memilih calon pemimpin laki2 dibanding perempuan, pdhl perempuan jauh lebih bagus
  • Komponen kepemimpinan yang transformasional antara lain Motivasi, inspirasional, Keteladanan, Pertimbangan individu,Kolaboratif dan inovatif
  • refleksi kepemimpinan perempuan dalam peningkatan perempuan yang telaten, sabar mampu menjadi teladan bagi masyarakat untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat sudah banyak sosialisasi ttg pola hidup bersih dan sehat melalui berbagai komunitas
    • implementasi kepemimpinan (perempuan peletak batu pertama bagi anak) maka perempuan juga merangkap peran sebagai pendidik, pengasuh, pendamping, penuntun, pendorong/motivator dalam keluarga, pemuat, pendamping suami, pencari nafkah tambahan

“Kalau menjadi pemimpin harus menjadi pemimpin yang memiliki nilai bagi kesehatan masyarakat”. Tegas dr. Arida

Hj. Surti Hartini, SH., CN.

Kepemimpinan perempuan di bidang pemerintahan

Kendala bagi kaum wanita dari faktor eksternal antara lain :

Sistem sosial (kodrat perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki), Nilai-nilai budaya (perempuan menjadi orang kedua), Sikap laki2 terhadap feminisme (perempuania kebanyakan menganggap perempuan tidak menjadi pesaing, tapi pendamping)

Sedangkan untuk aktor internal atau dari diri perempuan sendiri Kekuatan (ingin menyamai laki2 dan jika perlu melampaui; tekun, jujur, teliti; mempunyai gaya kepemimpinan yang manusiawi juga tegas; dukungan keluarga) kepemimpinan adalah seni untuk mengolah rasa (kerja harus sesuai aturan). Kelemahan (merasa bersalah meninggalkan keluarga [dalam hal ini seorang ibu harus memberi pengertian kepada anak tanpa mengabaikan keperluan anak, seorang pemimpin juga memperjuangkan karir perempuan di belakangnya/anak buahnya] dan memiliki peran ganda sebagai ibu rumah tangga [ketika keluar rumah harus beres, misalnya menyiapkan makanan anak-anak] dan mencari nafkah [membantu mencari nafkah, tapi berdasar fakta kini perempuan juga menjadi tulang punggung keluarga, ketika melebihi suami perempuan harus menjaga suami supaya suami tetap dihargai dan tidak disepelekan].

Ir. Hj. Suryati Soeharjo

Kepemimpinan di bidang ekonomi

Untuk menjadi pengusaha yang sukses banyak hal yang perlu di perjuangkan, proses yang panjang dan hambatan besar akan selalu menghadang. Untuk membangun usaha tidak hanya modal/ meteri yang melimpah tap perlu juga memberi pendidikan pada karyawan untuk meningkatkan kompetensi SDM yang ada. Selalu membuat inovasi baru misalnya mempromosikan menu sehat. Tidak menutupkan banyak memberdayakan wanita walupun wanita2 tersebut juga masih harus menyelesaikan tugas domestik.

Dr. Maria Ulfa Anshor

Kepemimpinan Perempuan Indonesia di Masa Depan

-      Dari sisi norma, perempuan menjadi pemimpin sudah sangat kuat sekali (dari UUD sangat jelas disebutkan dan dari berbagai UU sudah ada peraturan yang kuat, dan saat ini sedang dibahas UU Desa dimana perempuan sangat memungkinkan untuk masuk). Peluang cukup besar bagi perempuan di 2 pemilu terakhir (2004: UU Parpol yang mengharuskan adanya kuota perempuan, bias saat ada kata “bisa” dalam Parpol). Hambatan bagi perempuan: politik uang yang terjadi di semua level ketika terjadi perempuanoses pemilihan, termasuk saat PEMILU (ditambah lagi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang perempuan pragmatis)

-      proses demokrasi menjadi proses yang sepertinya demokratis, tapi di baliknya ada minus etika politik, sehingga di tahun 2019 harus dikurangi politik uang yang menjadikan demokrasi tidak sehat

-      Hambatan ke depan bagi Indonesia: harus ada pendidikan politik yang tuntas, ada pendidikan kewarganegaraan yang baik di sekolah-sekolah, tantangan agama Islam yang bias gender (seperti ada fatwa larangan memilih perempuan. Padahal secara universal, perempuan maupun laki2

-      Yang harus dilakukan untuk pemilu ke depan: memperkuat jaringan, memperkuat pendidikan politik utk pemilih pemula

SERTIJAB PSW UGM 2016

Acara serah terima jabatan Kepala Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada  diselenggarakan hari Kamis 21 Juli 2016 di Ruang Seminar PSW UGM dihadiri Tim Ahli, para peneliti, dan karyawan PSW UGM. Dalam acara Drs. Soeprapto, SU sebagai Kepala yang lama memberikan laporan kegiatan PSW UGM kepada Kepala yang baru,

Sesuai Surat keputusan rektor Nomor 595/UN1.P/SK/HUKOR/2016 dan Nomor 596/UN1.P/SK/HUKOR/2016 telah menetapkan

1. Dr. Tri Winarni Soenarto Putri, SU Sebagai Kepala PSW

2. Dr. Wiwik Puji Mulyani, M.Si  sebagai Sekretaris PSW

Dalam kesempatan itu Drs Soeprapto, SU menyampaikan terimakasih kepada seluruh staf ahli, tim peneliti dan karyawan PSW UGM yang selama in telah bahu membahu membangun PSW UGM, “begitu pentingnya menjaga  rasa kekeluargaan yang selama ini terbangun, semoga PSW kedepan semakin baik”, tandas Soeprapto.

 

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Dr tri winarni Soenarto Putri, SU sebagai kepala PSW UGM yang baru, beliau  menyampaiakan ucapan terimakasih kepada kepala yang sebelumya bahwa atas pengabdian dan dedikasinya sehingga banyak hal yang telah di capai oleh PSW UGM.  “kedepan tugas dan tanggung jawab yang di emban begitu berat, tantangan kedepan akan semakin berat maka  saya berharap kegotong royongan dan kebersamaan  yang selama ini terbangaun di PSW UGM bisa tetap terjaga dan harapan kita bersama bahwa PSW akan semakin maju”, tandas Tri Winarni.

 

acara diakhiri dengan ramah-tamah dan keakraban.

 

SELAMAT BERTUGAS KEPALA PSW UGM YANG BARU. SEMOGA PSW UGM MAKIN MAJU

SEMINAR NASIOAL KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI INDONESIA

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional PSW UGM mengadakan Seminar Nasional “Kepemimpinan Perempuan di indonesia” sebagai tanda Kebangkitan Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan. Diohon Kehadiran Bapak/Ibu/Sdr/Sdri untuk hadir sebagai peserta aktif pada :

Hari          : Selasa

Tanggal   : 24 Mei 2016

Tempat   : University Club (UC) UGM

Pukul      : 08.00- selaesai

Konfirmasi kesedian dapat disampaikan ke Sdri Indi manega paling lambat pada tanggal 20 Mei 2016 pukul 14.000 di No tlp 0274 583546 atau email : psw_ugm@yahoo.co.id

PENAWARAN PELATIHAN

PELATIHAN METODE PENELITIAN : STRATEGI PERUMUSAN KONSEP, VARIABEL, dan ITEM PERTANYAAN

PENDAHULUAN

Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.
Untuk melakukan penelitian diperlukan pemahaman mengenai tahap-tahap penelitian dari perumusan, penjabaran variabel dan indikator sampai penentuan item pertannyaan, agar ”Reasech quetion” dapat terjawab.
Kemampuan merumuskan konsep, menjabarkan variabel, indikator sampai penentuan item pertanyaan tersebut tentu sangat dibutuhkan bagi peneliti. Oleh karena itu materi pelatihan ini penting untuk disampaikan.

TUJUAN

1.Mampu merumuskan konsep dan variable
2.Mampu mejabarkan indikator
3. Mampu menyusun item pertanyaan

PESERTA

1.Peneliti
2.Mahasiswa S1, S2
3.Umum

MATERI

1.Pengertian dan jenis konsep
2.Pengertian dan jenis variable
3.Jenis penjabaran konsep ke variable
4.Teknik penjabaran konsep ke indicator
5.Teknik penentuan Item Pertanyaan

TEMPAT

Pusat Studi Wanita UGM.
Jl. Trengguli E-11, Bulaksumur Yogyaklarta

WAKTU

Hari : Kamis – Jum’at
Tanggal : 17 – 18 Desember 2015

KONTRIBUSI PESERTA

Mahasiswa : Rp 250.000,-
Umum        : Rp 500.000,-

FASILITAS

1) Bahan Pelatihan
2) Sertifikat
3) Makan Siang dan Snack

NARASUMBER

1. Drs. Soeprapto, S.U
Kepala PSW UGM
2. Ir. Harsoyo, M.Ext.Ed
Sekretaris Kepala PSW UGM

CARA PENDAFTARAN

Calon peserta dapat mendaftar ke PSW UGM langsung atau melalui telp 0274.6492417; 0274.563548

PEMBAYARAN
pembayaran Paling lambat tanggal 15 Desember 2015
dilakukan langsung ke sekretariat di PSW UGM, Jl. Trengguli E-11, Bulaksumur, Yogyakarta
Atau
Bank MANDIRI Kcp.UGM
UGM PUSAT STUDI
PSW-LAIN-LAIN
No. Rek.137-00-1401109-8

PELATIHAN

PELATIHAN

 PELATIHAN
METODOLOGI PENELITIAN ; STRATEGI PERUMUSAN KONSEP, VARIABEL, INDIKATOR DAN ITEM PERTANYAAN

Latar belakang

Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Ada dua teori kebenaran pengetahuan, yaitu teori koherensi dan korespondensi. Teori koherensi beranggapan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila sesuai dan tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya. Aturan yang dipakai adalah logika berpikir atau berpikir logis. Sementara itu teori korenspondensi berasumsi bahwa sebuah pernyataan dipandang benar apabila sesuai dengan kenyataan (fakta atau realita). Untuk menemukan kebenaran yang logis dan didukung oleh fakta, maka harus dilakukan penelitian terlebih dahulu. Inilah hakikat penelitian sebagai kegiatan ilmiah atau sebagai proses the acquisition of knowledge.
Untuk melakukan penelitian diperlukan pemahaman mengenai tahap-tahap penelitian dari perumusan konsep, penjabaran variabel dan indikator sampai penentuan item pertannyaan, agar ”Research question” dapat terjawab.
Kemampuan  merumuskan konsep, menjabar kan variabel, menjabarkan indikator sampai penentuan item pertanyaan tersebut, sudah barang tentu sangat dibutuhkan bagi peneliti. Oleh karena itu materi pelatihan ini menjadi penting untuk disosialisasikan.

Tujuan
1.    Mampu merumuskan konsep dan variabel
2.    Mampu  mejabarkan indikator
3.    Mampu menyusun item pertanyaan

Sasaran Peserta
1.    Peneliti
2.    Mahasiswa S1, S2
3.    Umum

Materi
1.    Pengertian dan jenis konsep
2.    Pengertian dan jenis variabel
3.    Teknik penjabaran konsep ke variable
4.    Teknik penjabaran konsep ke indikator
5.    Teknik penentuan Item Pertanyaan

Tempat Pelatihan
Pusat Studi Wanita UGM.
Jl. Trengguli E-11, Bulaksumur Yogyaklarta

Waktu Pelatihan
Hari       : Kamis – Jum’at
Tanggal : 5 – 6 Nopember  2015
Pukul     : 09.00-16.00

Kontribusi Peserta
Mahasiswa S1            : Rp  500.000,-
Mahasiswa S2, Peneliti, Umum    : Rp  750.000,-

Fasilitas
1)    Bahan Pelatihan (Soft file)
2)    Sertifikat
3)    Makan Siang dan Snack

Narasumber
1.    Drs. Soeprapto, S.U
Kepala PSW UGM
2.    Ir. Harsoyo, M.Ext.Ed
Sekretaris  PSW UGM

Pendaftaran Peserta
Calon peserta dapat mendaftar ke PSW UGM langsung atau melalui telp 0274.6492417;  0274.563548

Pembayaran
Pembayaran dapat dilakukan langsung ke sekretariat di PSW UGM, Jl. Trengguli E-11, Bulaksumur, Yogyakarta
Atau transfer ke
Bank MANDIRI KCP.UGM
UGM PUSAT STUDI
PSW-LAIN-LAIN
No. Rek.137-00-1401109-8 

TOT “PENINGKATAN KOMPETENSI MENGAJAR BAGI DOSEN DAN GURU YANG RESPONSIF GENDER” GELOMBANG KE 2

 

TRAINING OF TRAINER
GELOMBANG KE 2

 PENINGKATAN KOMPETENSI MENGAJAR BAGI DOSEN DAN GURU
YANG RESPONSIF GENDER (Akta IV dan PEKERTI-AA Plus)

Pendahuluan

Komitmen pemerintah untuk mewujudkan pendidikan adil gender telah dituangkan dalam berbagai macam regulasi, salah satunya adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 84 Tahun 2008 Tentang Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Pada Permendiknas tersebut dinyatakan bahwa “Setiap satuan unit kerja bidang pendidikan yang melakukan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, dan program pembangunan bidang pendidikan agar mengintegrasikan gender di dalamnya”. Berdasarkan pasal tersebut, tidak ada lagi alasan bagi stakeholders pendidikan untuk mengabaikan integrasi keadilan dan kesetaraan gender dalam pembangunan pendidikan.

Namun demikian pada kenyataannya, kesenjangan gender bidang pendidikan masih terjadi. Beberapa kesenjangan gender yang ada antara lain: (i) materi bahan ajar pada umumnya masih bias gender; (ii) proses pembelajaran di kelas belum sepenuhnya mendorong partisipasi aktif secara seimbang antara siswa laki-laki dan perempuan; dan (iii) lingkungan fisik sekolah belum menjawab kebutuhan spesifik anak laki-laki dan perempuan; (iv) Pengelolaan pendidikan belum sepenuhnya dilaksanakan ke arah adil gender atau  memberikan peluang yang seimbang bagi laki-laki dan perempuan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Untuk itu, peningkatan kesetaraan dan keadilan gender di bidang pendidikan sangat penting untuk dilakukan agar lebih menjamin semua warga negara baik laki-laki maupun perempuan dapat mengakses pelayanan pendidikan,  berpartisipasi aktif, dan mempunyai kontrol serta mendapat manfaat dari pembangunan pendidikan, sehingga laki-laki dan perempuan dapat mengembangkan potensinya secara maksimal.

Oleh karena itu diperlukan pengelolaan pendidikan yang responsive gender termasuk di dalamnya adalah guru responsive gender di berbagai tingkat pendidikan. Menanggapi kebutuhan akan guru dan dosen yang adil/responsif gender dan kebutuhan akan pelatih bagi guru dan dosen yang responsif gender tersebut, maka Pusat Studi Wanita (PSW) UGM berniat melaksanakan Training Of Trainer (TOT) untuk mencetak guru dan dosen serta pelatih guru dan dosen tersebut. Adapum kompetensi dari pelatihan ini adalah bahwa setelah lulus dari pelatihan ini Peserta TOT akan mempunyai kemampuan untuk menjadi guru maupun menjadi pelatih yang responsif gender di berbagai tingkat pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

SASARAN PESERTA

Pelatihan ini terbuka bagi peserta umum, Dosen, Guru, Pemerhati dan peminat Pendidikan, mahasiswa S-2 dan mahasiswa S-3.

WAKTU & TEMPAT


(Kamis-Jumat, 22 – 23 Oktober 2015; Pukul 08.00 – 17.00)
Tempat : Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada Jl. Trengguli E 11, Bulaksumur Yogyakarta.

Materi

1. Urgensi Peningkatan Kompetensi Mengajar bagi Dosen & Guru Berbasis Inovasi Pembelajaran yang Responsif Gender
2. Landasan Kependidikan Responsif Gender
3. Dasar-Dasar Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
4. Pendidikan Sebagai Sistem
5. Integrasi Ragam Paradigma dalam Proses Pendidikan
6. Ragam Teori Pendidikan/Pembelajaran
7. Desain Pendidikan/Pembelajaran
8. Strategi Pendidikan/Pembelajaran
9. Strategi & Metode Pendidikan/ Pembelajaran
10. Perkembangan Peserta Didik
11. Belajar & Pembelajaran
12. Media Pembelajaran
13. Telaah & Pengembangan Kurikulum
14. Tridarma Pendidikan yang responsif Gender
14. Rencana Proses Pembelajaran  (RPS/RPM/RPH)
15. Penyusunan Bahan Ajar
17. Micro Teaching

BIAYA
Kategori                                    Biaya
Umum                      :   Rp 1.500.000,-
Mahasiswa S2/S3    :    Rp 750.000,-

* Pendaftaran paling lambat 2 september 2015. Pembayaran dapat dilakukan melalui Sekretariat atau transfer ke:
Bank MANDIRI Kcp.UGM
No. Rek.137-00-1401109-8  
PSW-lain2

Fasilitas: Materi pelatihan, sertifikat, snack dan makan siang.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Pusat Studi Wanita UGM, Jl. Trengguli Blok E 11, Bulaksumur Yogyakarta
Telp./Fax    : (0274) 583546  Email : psw_ugm@yahoo.co.id